Kewajiban mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu’Alaihi Wa Sallam


Buah pena dari Al Ustadz Abdullah Taslim Lc
Prolog

Semua orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari kemudian wajib menyadari bahwa landasan utama agama islam yang agung ini adalah dua kalimat syahadat:لا إله إلا الله و محمد رسول الله yang ini berarti bahwa seseorang tidak akan bisa berislam dengan benar, bahkan tidak akan bisa mencapai kedudukan taqwa yang sebenarnya disisi Allah Azza wa Jalla, kecuali setelah dia berusaha memahami dan mengamalkan kandungan dua kalimat syahadat ini dengan baik dan benar.

Para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah menjelaskan bahwa makna (لا إله إلا الله) adalah tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Azza wa Jalla, artinya tidak ada yang berhak untuk kita serahkan padanya segala bentuk ibadah, yang lahir maupun yang batin, kecuali Allah Azza wa Jalla semata-mata. Dan syahadat ini mengandung dua konsekwensi:

Baca entri selengkapnya »

Sudah wafatkah Isa al Masih ???

Nabi Isa –’alaihissalam– hidup untuk menjadi titik sentral perseteruan abadi tiga kubu penganut ajaran samawi: Islam, Nashrani, dan Yahudi. Dua agama terakhir ini akhirnya tak lagi diakui sebagai agama samawi oleh sebagian ulama Islam, karena sudah bukan lagi agama Allah. Dua agama itu telah diubah oleh manusia-manusia yang menyembunyikan kedengkian hebat dalam dada mereka, terhadap sebagian Rasul Allah.

Sebagian ulama masih menyebut Yahudi dan Nashrani sebagai agama samawi, namun bukan berarti menganggap kedua agama itu benar. Mereka menyebutkan demikian hanya untuk menegaskan bahwa asal kedua agama itu adalah agama Allah, yaitu Islam juga, berasal dari langit (samaa), maka disebut agama samawi. Semenjak turunnya Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kedua agama itu sudah bukan lagi agama Allah. Penganutnya adalah kaum kafir, bukan kaum beriman.

Kenapa keberadaan Isa Al-Masih, Isa bin Maryam, menjadi titik sentral perseteruan?

Karena Islam mengakui kenabiannya, lalu memandangnya sebagai nabi dan rasul untuk umat Bani Israil yang saat itu menjadi penganut agamanya.
Yahudi menolak mengakuinya sebagai nabi dan rasul, bahkan menuduhnya sebagai anak zina –wal iyadzu billah–.

Baca entri selengkapnya »

Jangan biarkan kekerasan menghancurkanmu

Bila kita membuka sejenak lembaran sejarah kehidupan manusia, banyak peristiwa besar yang terjadi baik itu positif atau negatif, yang melibatkan tangan-tangan generasi muda. Allah l menggambarkan masa muda sebagai masa kuat di antara dua masa yang lemah, sebagaimana firman-Nya,

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Ruum: 54)

Para generasi muda banyak yang membuktikan, pada masa mereka kegiatan yang mereka lakukan mampu mengubah wajah dunia, baik itu ke arah positif atau negatif. Sebagai contoh, kemerdekaan Republik Indonesia dimotori oleh generasi muda. Begitu juga era reformasi.

Baca entri selengkapnya »

Mewujudkan khusyu’ dalam Shalat

Khusyu’ tentu merupakan sesuatu yang dicari-cari oleh orang yang mendirikan salat yang ingin mendapatkan keridhaan sesembahannya.

Khusyu’ adalah ketentraman, ketenangan, perasaan takut, kesejahteraan, dan juga tawadhu’. Lebih singkatnya, khusyu’ adalah merasa takut terhadap Allah dan selalu memperhatikan segala apa yang diperintahkan-Nya. Ada juga yang mengatakan, khusyu’ adalah berdirinya hati di hadapan Rabb dengan penuh ketundukan dan perasaan hina dina.

Tempat khusyu’ adalah di dalam hati. Namun, khusyu’ juga memberikan dampak terhadap jasmani. Sebab, anggota tubuh akan mengikuti hati. Jika hati khusyu’ anggota badan pun akan tenang dan tentram. Jika khusyu’ rusak, rusak pulalah ibadah yang dilakukan oleh anggota badan seseorang.

Baca entri selengkapnya »

Berlindung dari godaan Setan

Mewaspadai bisikan nafsu merupakan hal yang penting. Hal ini merupakan salah satu cara untuk membersihkan jiwa dari keburukan-keburukan. Namun mewaspadainya tanpa mewaspadai bisikan yang lain adalah merupakan jalan yang timpang. Sebagian kaum sufi berada pada jalan yang timpang ini. Mereka begitu memperhatikan aib jiwa dan keburukan nafsu, namun lupa memperhatikan bisikan yang lain. Bisikan yang lain itu adalah godaan setan.

Ternyata masalah setan lebih banyak disebut dalam Al-Quran dan Al-Hadits daripada masalah nafsu. Dalam Al-Quran, nafsu madzmumah (yang buruk dan jahat) disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 dan surat An-Nazi’at ayat 40. Adapun nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebut dalam surat Al-Qiyamah ayat 2. Sedangkan masalah setan lebih banyak disebutkan. Hal ini disebabkan kejahatan dan rusaknya nafsu sebenarnya dikarenakan godaan setan. Sehingga, godaan setan itulah yang menjadi poros dan sumber kejahatan.

Baca entri selengkapnya »

Seakan melihat Allah

Suatu saat, Jibril menampakkan diri sebagai seorang laki-laki di hadapan utusan Allah terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Waktu itu, malaikat penyampai wahyu ini menanyakan tentang Islam, iman, dan ihsan.

Jawaban pertanyaan pertama dan kedua adalah apa yang kita kenal sebagai rukun Islam dan rukun iman. Adapun tentang jawaban pertanyaan ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.”

Baca entri selengkapnya »

Berlindung dari Fitnah

Memiliki keluarga yang didalamnya penuh dengan sakinah mawadah dan penuh rahmah adalah impian setiap insan muslim. Namun, sepenuhnya kita menyadari bahwa keluarga, anak-anak juga harta-harta yang kita miliki bisa menjadi fitnah dan ujian hidup.

Oleh karenanya, seorang hamba hendaknya tidak putus permohonannya setiap waktu pada Allah untuk senantiasa menjadikan keluarga, istri, suami ataupun anak-anak cucu keturunannya sebagai qurrata a’yun, penyejuk mata dan hati serta pembawa kebaikan dan manfaat.

Baca entri selengkapnya »

Waspadai Iklan sang Dukun !!!

Seorang lelaki paruh baya berpenampilan lusuh dengan rambut terurai tak rapi, muncul dan berkata, “Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan?”

“Ketik Reg(spasi)Weton kirim ke 9999.”

Ilustrasi di atas adalah contoh iklan yang memanfaatkan teknologi HP yang beredar di TV akhir-akhir ini. Iklan-iklan yang mengedepankan mistis dan ghaib, bermaterikan kesyirikan, muncul bagai jamur di musim hujan. Ada yang bermodel tanggal lahir seperti disebut di atas, ada yang menggunakan primbon, ada ramalan bintang dan lain sebagainya. Pelakunya pun bermacam-macam; ada Ki Joko Bodo, Mbah Roso, ada juga Mama Lauren, dan masih banyak lagi. Dalam pandangan syariat Islam pelaku semua itu dinamakan dukun atau peramal.

Baca entri selengkapnya »

Haram menumpahkan darah sesama Muslim

Banyaknya kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini membuat kita miris. Kekerasan tidak hanya menghinggapi teroris. Remaja SMP, SMU bahkan mahasiswa pun kini merasa harus menyelesaikan segala urusan dengan kekerasan dan mengalirnya darah. Hal itu sungguh sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sesungguhnya, syariat Islam datang untuk menjaga 5 pokok yang amat mendasar, serta mengharamkan hal itu untuk diterjang, yaitu : agama, jiwa, harta, kehormatan, dan akal.

Berikut ini kami nukilkan taushiyah dari Syekh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani  hafizhahullahu, agar kita lebih berhati-hati dan menjauhkan diri dari kekerasan, saat berhadapan atau berselisih dengan saudara sesama muslim.

Baca entri selengkapnya »

SALAH SATU TANDA KEBAIKAN ISLAM SESEORANG

Dari Abu Hurairah , ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (H.R.. Tirmidzi dan yang lainnya)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam kitab Al Arba’in bahwa hadits ini derajatnya hasan. Syaikh Salim Al Hilali menyatakan dalam buku “Shahih Al Adzkar wa Dhaifuhu” hadits ini shahih lighairihi. Kesimpulannya hadits ini benar adanya dari Rasulullah.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (wafat tahun 795 H) mengatakan: “Hadits ini merupakan fondasi yang sangat agung dari fondasi-fondasi adab.” Beliau juga menyatakan pula tentang pengertian hadits ini: “Sesungguhnya barangsiapa yang baik keislamannya, pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya, ucapan dan perbuatan dia terbatas dalam hal yang penting baginya.”(Jami’ul Ulum wal Hikam)

Standar penting di sini bukan menurut rasa atau rasio kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, akan tetapi berdasarkan tuntunan syari’at Islam. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting adalah meninggalkan hal-hal yang haram, atau yang masih samar, atau sesuatu yang makruh, bahkan berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah sekalipun apabila tidak dibutuhkan, termasuk kategori hal-hal yang tidak penting.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan pula: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna sebagaimana disebutkan oleh Allah : “Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan, kecuali padanya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat.” (Surat Qaaf: 18)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, tentu ia akan sedikit berbicara, kecuali dalam hal-hal yang penting”.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al Adzkar : “Ketahuilah, sesungguhnya setiap mukallaf (muslim) diharuskan menjaga lisannya dari segala ucapan, kecuali yang mengandung maslahat. Apabila sama maslahatnya, baik ia berbicara atau diam, maka sunnah untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat mengakibatkan akhirnya kepada yang haram atau makruh, dan ini yang seringkali terjadi pada umumnya, padahal mencari keselamatan itu tak ada bandingannya.” Artinya mencari keselamatan itu sangat penting sekali.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah (wafat tahun 751 H) berkata: “Menjaga lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan kata-kata yang sia-sia, apabila ia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat padanya keuntungan padanya dan manfaat bagi dien (agama)nya. Apabila ia akan berbicara hendaklah ia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan ia keluarkan terdapat manfaat dan keuntungan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah ia diam, apabila bermanfaat hendaklah ia pikirkan lagi, adakah kata-kata yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya ia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang pertama.” (Dinukil dari kitab Ad Da’u wad Dawa’)

Selanjutnya beliau juga mengatakan dalam kitab yang sama: “Adalah sangat mengherankan bahwa manusia mudah sekali untuk menghindari dari memakan barang yang haram, berbuat zhalim, berzina, mencuri, minum-minuman keras, memandang pandangan yang diharamkan, dan lain sebagainya, tetapi sulit untuk menjaga gerakan lisannya, sampai-sampai seseorang yang dipandang sebagai ahli agama, zuhud, gemar ibadah, tetapi dia berbicara dengan ucapan yang membuat Allah murka padanya, disebabkan ucapannya tersebut tanpa ia sangka-sangka menyebabkan ia terjerumus ke neraka jahannam lebih jauh antara jarak timur dan barat. Betapa banyak orang yang demikian yang engkau lihat dalam hal wara’, meninggalkan kekejian dan kezhaliman, tetapi lisannya diumbar ke sana kemari menodai kehormatan orang-orang yang hidup dan yang telah meninggal dunia, tanpa mempedulikan akibat dari kata-kata yang diucapkannya.”

Ancaman yang disebutkan tadi berasal dari sabda Nabi : “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (apakah baik atau buruk) di dalamnya, maka ia tergelincir disebabkan kata-kata itu ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat.” (Muttafaq Alaihi)

Terakhir sebagai penutup marilah kita simak nasehat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hafizhahullah yang diringkas dari karyanya Syarah Riyadhus Shalihin: “Seorang muslim apabila ia ingin baik keislamannya, maka hendaklah ia meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya. Contoh: Apabila engkau bingung terhadap suatu amalan, apakah engkau kerjakan atau tidak? Lihatlah amalan itu apakah penting untukmu dalam hal dien dan dunia atau tidak penting? Jika penting maka lakukanlah, kalau tidak maka tinggalkanlah, karena keselamatan itu harus lebih diutamakan.

Begitulah, janganlah engkau ikut campur dengan urusan orang lain, jika kamu tidak memiliki kepentingan dengannya, tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian manusia pada hari ini berupa rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain, apabila ada dua orang yang sedang berbincang-bincang, maka engkau datangi keduanya, ingin tahu apa yang sedang diucapkan oleh mereka berdua, atau terkadang mengutus orang lain untuk mendengarkannya. Contoh yang lain, jika engkau berjumpa dengan orang lain, engkau bertanya kepadanya, “darimana kamu?”, “apa yang dikatakan si fulan kepadamu?”, “apa yang kamu katakan kepadanya?”, dan lain-lain sebagainya dari perkara-perkara yang tidak penting, dan tidak ada faedahnya, bahkan ia menyia-nyiakan waktu, membuat hati gelisah, dan mengacaukan pikirannya serta menyia-nyiakan kebanyakan dari perkara-perkara penting dan bermanfaat. Engkau dapatkan seorang yang dinamis, aktif dalam beramal, memiliki perhatian penuh terhadap kebaikan bagi dirinya dan hal-hal yang bermanfaat baginya, maka engkau dapatkan dia sebagai orang yang produktif.

Maka kesimpulannya, jika engkau ingin melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan, perhatikanlah! Apakah hal itu penting bagimu atau tidak? Jika tidak penting, maka tinggalkanlah. Apabila penting, maka kerjakanlah sesuai dengan prioritasnya. Begitulah manusia yang berakal, ia sangat perhatian dengan amal kebaikan sebagai persiapan menghadapi kematian, dan dia selalu menginstropeksi diri terhadap amal-amalnya selama ini. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.”

Disusun Oleh: Ustadz Fariq Ghasim Anuz -hafizhahullahu

diketik ulang oleh: Ummu Ayu–hafizhahullah